OPERA BATU TAK BERUJAR (By Fajri Raizal Kurniawan)

Batu biarlah tetap menjadi batu. Ia buta, tak mampu berujar, bercakap dengan hatipun tak lagi sanggup. Batu tetaplah menggelinding pada tanah-tanah merah. Apa mereka bercanda dalam gerak pasifnya. Tetapi, bagi Opung, batu hanyalah akumulasi dari kehampaan bumi. Kehampaan yang berisi pada lelengketan tanah merah. Batu itu tak patut tuk dihargai. Biarlah mata bergejolak berotasi pada pupil dan segi-seginya. Batu itu tak lagi punya arti, tak selayaknya sampah yang hanya menambah beban pada kotaknya. Begitulah opungku, bergumam dalam pahitnya lidah tua, bergeming dalam kadar defisiensi humor. Aku hanya tertancap pada telinga bersuar. Opung tak suka tingkahku pada koleksi batu-batu yang tertata rapi di kamar. Bagi opung, batu itu bakal lapuk bak hati yang memar dengan dendam dan hasrat neraka. Apalah ujar opung, biarlah angin sepoi tebarkan ucap dengki, tersapu bersama daun di tanah merah.

Batu tak selayaknya sahabat, atau sahabat tak selayaknya menjadi batu, entahlah aku tak tahu harus berpikir apa. Jari-jemariku tak ingin ucapkan pendapat tentang argument-argumen cerdas serebrum. Betapa lucunya, atau malah sedihnya, waktu per milisekon yang aku transfer pada dimensiku bersama batu kesayangan. Kuku-kuku ini bahkan telah berjarak satu nanometer dari jari-jemariku. Serasa mereka aneh atau malah aku yang berpikiran aneh atau siapa yang merasa aneh. Apa ini suatu sarkasme di suatu pujian atau jaktoposisi dari kumpulan perasaan. Tapi biarlah perasaan konflik atau tawuran dengan hati, batu tetaplah akupun jua, batu itu memoles hati bergerigi. Sayup suara berbisik gerigi batu bergerincik. Suar, tapi khayal, nyata, tapi serasa berenang bersama imajinasi. “Batu tetap batu” Opung pikir semacam itu. “Batu bukanlah batu” apakah itu. Suatu stigma, tetapi kohesi tak mampu menahan, adhesi pun akhirnya berakhir semacam itu jua.

Tetapi batu koleksi bukanlah semacam batu yang Opung pikir. Aku berusaha berlari sprint bersama keyakinan, tapi apalah daya, akal dan logika tak mampu jadi sepadan. Tapi, apalah guna, akal dan logika, jikalau hatipun tak ingin bersahabat baik dengan mereka berdua. Bukan pula musuh “bebuyutan”, hanya tak ingin bermain dan bercanda gurau. Apakah Tuhan mengerti apa yang dipermasalahkan. Bahkan hatipun tak bersuara. Tapi, Opung tetap pada keteguhan hati, bahwa Tuhan tahu segala rahasia. Apakah itu berarti, Tuhan mengerti apa yang aku rasa. Hah… Tuhan … Bahkan aku tak mengenalnya semenjak aku dilahirkan, takkala kuucapkan selamat tinggal pada Rahim ibuku. Apa Tuhan yang mendorongku keluar, hingga aku  terlahir dengan satu ton kebingungan.

Jikalau Opung benar akan apa yang beliau utarakan akan siapa itu Tuhan, bukanlah suatu obligasi bagiku untuk mengukir perbendaharaan kebingungan pada kanvas hidupku. Biarkanlah stigma bahwa Tuhan tahu segalanya menjadi suatu fakta, walaupun fakta itu bisu dalam mengutarakan kebenarannya. Tuhan tahu segalanya, itulah yang sedang berputar dari apa yang ada di perspektifku, suatu dilema psikologi layu. Tuhan tahu apa yang ingin diutarakan oleh batu kesayangan, Tuhan mengerti yang batu rasakan. Apakah itu mungkin, itu yang tetap menjadi pertanyaan abadi. Haruskah aku bertanya pada Tuhan apa yang batu perlukan pada detik-detik kebutuhan. Mendadaklah suatu keinginan jikalau suatu datang pada detik sebelum hari-hari dihitung segalanya. Aku tak tahu bagaimana menyapa Tuhan. Aku bahkan tak mengerti apa bahasa yang Tuhan gunakan untuk berkomunikasi dengan makhluknya. Suatu kebingungan menyelimuti kebingungan lainnya. “Chain Rule” yang dulunya aku pelajari di kelas Matematika, serasa merasuk pada apa yang aku ingin ungkapkan pada Tuhan. Huh… Biarlah Tuhan mengatur apa yang dia kehendaki, dan aku akan mendengarkan saksi-saksinya suatu saat jam dan jarum-jarumnya tak lagi bersama.

Batu di sampingku tetap menjadi suatu pertanyaan, bagiku, suatu derita tak tertahan bagi Opung. Aku ingin mendengar apa yang batu rasakan. Apa dia sedang meraung kelaparan. Apa dia sedang menggigil kedinginan. Haruskah itu menjadi keharusan bagiku tuk mengurus batu. Sedang, aku tak dapat mengerti apa yang ingin batu sampaikan padaku. Kebingungan adalah kebutuhan. Takkala aku tak inginkan dunia tuk berpidato, batu-batu kesayanganku malah terdiam menyimpan beribu-ribu tanda-tanda aklamasi. Tapi siapa yang peduli. Aku tetap bersama batu dengan apa yang ada dan saling meniadakan. Apalah daya, dimensi kami sama, tapi tak dapat berbuat apa-apa tanpa suatu dilematika komunikasi yang kan hubungkan keduanya. “Telepati”, apakah itu yang Tuhan isyarakatkan padaku tuk dapat mengerti apa yang batu ini ingin utarakan. Aku yakin batu ini tidak mati dengan sendiri dalam suatu kelapukan. Mereka tidak akan mengira suatu kebobrokan dalam awan yang menyelimuti atmosferr. Batu, tak dapatlah ia melayang dengann sayap-sayap malaikat. Aku hanya dapat bersembunyi pada asbak kosong, berbau asap-asap rokok, sedang batu tak berkata apapun. Sedih dan hampa menyelimuti seisi kamar, bersama batu-batu kesayangan.

“Batu, oh, batu, bantulah aku mengungkapkan segala rahasia yang telah menjadi kebingungan. Buktikan padaku, oh, batu sayangku, bahwa dalam sumpah bersama alam semesta. Opung ku salah dalam menilaimu.” Teriak ku dalam hati, berharap batu dapat mendengar. Suatu harapan  yang kian mengembara mencari kebenaran. Kubaringkan tubuhku pada empuknya busa-busa, bersiap berlabuh kedalam mimpi. Ku peluk erat batu-batu ku, “Marilah kita bersama berlayar, bercakap canda, hingga itu mulai berputar dan jam pasir mulai berbalik tuk menghitung inversi dari alam-alam kami. Aku meloncat kegirangan akan alam dimana aku berlabuh bersama kapal-kapal besar, dimana hanya aku sendirian tanpa awak dan nakhoda. Betapa hatiku tersentak, takkala aku lihat batu kesayangan tak lagi ada di pembaringan. Kutoleh kanan dan kiri, kubaui segala yang ada diatas dan dibawah, tak juga muncul tanda-tanda batu-batu kesayang. Apa ini kenyataan dalam suatu ilusi, atau hanya bermain dengan apa yang dapat direkayasa. Tapi, biarlah ilusi itu menjadi kenyataan, dan daku kan tetap berdecak kagum dengan apa yang aku rasakan saat detik pertama, kapalku menempelkan badannya pada pelabuhan. Tapi, dimana batu-batu itu? Sungguh aku tak dapat mengerti. Apa elok pasif langkahnya sudah mengubah dia menjadi suatu yang dapat melangkah dengan seperti apa adanya. Ku angkat ragaku dan bertolaklah tuk cari batu-batu kesayangan. Langkah demi langkah, sangat kuusahakan, tapi apalah daya, ini bukanlah alamku. Aku tak kan mampu tuk cari batu-batu kesayangan di alam yang serba putih. Bahkan badanku tak menampakkan bentuknya. Aku ingin mencari tahu cara bernafas. Tetapi, nafasku sendiri berlari menjauh dari diriku. Aku ingin tahu cara berpikir. Tetapi otakku sedang tak berada di tempatnya.

Berlaga di arena keputusan, aku pasang sabuk kebanggaan. Aku hanya punya hati yang bergerigi, minta dipoles oleh batu-batu kesayangan. Hanya hati itulah yang jadi petunjuk dimana batu kesayangan berada. Kuletakkan hati pada semua rongga di tubuhku, mengisi kekosongan. Aku tegap sempurna, bertekad bulat mencari batu-batu kesayangan. Aku berjalan dengan merangkak, berkata dengan merengek, bertumpu pada kepolosan. Kuperhatikan titik-titik hati meninggalkan jejak. Kuikuti langkahnya, petak per petak. Aku tak mengerti apa yang sedang aku perbuat. Aku merangkak satu langkah maju dengan percaya diri, tetapi akhirnya merangkak mundur dua langkah dengan rasa pesimistis. Apalah daya aku perbuat, semua hanya buatku mundur dari apa yang aku kerjakan. Apa ini hasil dari kebingungan akan batu-batu yang sangat dibenci Opung. Yang Opung oceh tanpa alasan yang jelas. Yang Opung cemooh akan apa yang sebenarnya tak terjadi. Aku kembali mengusahakan langkahnya dalam rangkakkan. Aku kembali mendapat hal yang sama. Hanya kemunduran yang aku rasakan. Apakah ini yang batu inginkan, suatu “node” dimana aku tak harus menemukan dia. Apa batu tak ingin bersahabat dengan daku lagi. Aku kembali terjerumus ke dalam jurang keputusasaan. Tapi biarlah langkah ini tetap berdetak.

Aku tetap pertahankan mode langkahku. Walaupun, hasilnya hanya kemunduran. Aku tetap melangkah dan melangkah. Maju dan mundur itulah yang aku rasakan. Terus dan terus menerus, sungguh membosankan. Takkala aku berpikir betapa bodohnya diriku. Membiarkan diriku mengayom bak mengayun pada bandul. Apa yang aku dapatkan, suatu kebobrokan dalam pikiran. Apakah hal ini sama dengan apa yang Opung rasakan. Aku tak kan pernah tahu dan aku tak pernah ingin tahu. Tetapi, apa yang dapat dipilih, hanyalah tetap pada ritme untuk cari kebenaran. Langkah demi langkah kembali ku utarakan. Bersama parade tangan dan kaki-kakiku, tetap pada detak yang konstan. Akhirnya, aku tersentak pada sesuatu yang menyentuh punggungku. Aku tak berani tengok apa yang ada di belakang. Tetapi, tak ada rugi tuk saksikan kenyataan. Ku tengok kebelakang, aku tak percaya dengan apa yang mata ini saksikan. Seorang laki-laki besar yang sangat mirip denganku mengepal batu kesayangan, hendak melemparkannya kepada seorang wanita yang sudah berlumur darah “Wanita itu!” aku yakin sekali dia yang melahirkan aku dari rahimnya. Aku sangat kenal dengan lekuk wajahnya. Takkala aku menangis tuk pertama kalinya, dialah yang memberiku air minum yang bersumber dari tubuhnya. Kutengok lagi, aku melihat Opung sedang bersembunyi di balik semak, menyaksikan adegan sadis yang dilakukan laki-laki itu. Aku tak mengerti. Ku biarkan opera ini berlanjut dalam ilusi dan aku tetap berselimut dalam dinginnya kebingungan.

Biarkanlah Batu Tetap Tak Berujar……..

Iklan

Posted on Mei 3, 2017, in Cerpen Bahasa Indonesia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • %d blogger menyukai ini: