Kilauan Hati ( Oleh Fajri Raizal K)

faj

Hancur dalam kegelapan dengan melodi nan indah sangat pedih terasa,belumlah sampai pada penghujung air garam pun tumpah di atas kulit tak berlapis. Dunia bagaikan hancur penuh dengan gejolak rasa marah yang terpendam di dalam hati,ingin sekali rasanya menusukkan ratusan duri keseluruh bagian badan nan terkikis. Setitik demi setik berlian mulai berjatuhan dilapangan luas nan tak bernoda. Itu adalah ukiran senandung sakit di dalam hidupku. Matahari yang tak pernah tau betapa panas nya bumi, dan bulan yang datang membalut kegelapan sangat sulit untuk di mengerti.

 Semua berawal dari kisah seorang anak tak tau malu  bernyali bagaikan upil. Itu adalah aku Jorbair, seorang siswa dari Megaroka. Aku telah salah memilih jalanku untuk pergi mengambil scholarship ini,memang semua hal sangat mudah di raih di sini. Entah  duri apa yang menusuk dihati,nan membuat nya tak pernah merasa senang akan ini. Banyak cahaya yang dapat kugapai yang belum bisa orang lain capai,banyak jumlah liku yang sudah ku hitung, dan banyak auman harimau kotor yang sudah ku dapatkan. Tapi bahagia itu musnah, bagaikan air kotor yang mengalir. Bagaikan manusia terbodoh didalam kurungan emas, penuh tekanan dan aturan,itu bukanlah hidupku. Aku ingin menjadi aku, ingin menjadi burung Rajawali yang bebas di alam nya. Hingga sampai saat ini aku bingung akan masa depan ku, ketakutan itu datang tetapi aku tak bisa berkutik dari semua ini. Hingga semua pergi menjauh dari cahaya nan berkilau saat ini, datang sebuah penyesalan nan amat dalam di kegelapan.

Bagiku kata”bersyukur” sudah terlambat, game is over. Saat nya anda keluar dari permainan, menyedihkan dan sangat memalukan. Kini urat-urat ini berusaha untuk mencapai pada titik  klimaks nya. Percobaan pertama GAGAL,kedua GAGAL DAN MEMALUKAN, dan yang terakhir HANCUR dalam kesendirian. Aku sangat kehilangan atas segalanya, rasanya aku ingin lombat dan melayang terbang membawaku kea lam lain. Tidak pernah terfikir bahwa ini benar-benar terjadi pada hidupku,sampai saat ini aku masih seorang pecundang yang tak tau arah untuk menuntun hati. Hingga aku terhanyut dalam kebisingan laut api hingga berbulan-bulan. Hingga akhirnya tembakan motivasipun datang menghampiri ku, saat itu keadaan keluargaku sangat kacau. Ibu dan kakak tertua ku saling mengadu bilahnya masing. Hingga aku bingung untuk melakukan apa, ibuku mengadu dengan tangisan sembriwut yang kencang,yang pada akhirnya dia berkata ”Banggakanlah Wanit Tua ini nak”. Terdiam,gemetar dan menangis hanya itu yang hanya dapat aku lakukan pada saat itu. Tak lama setelah itu auman bekecotpun menghampiri telinga ini, Kakak ku hanya menangis dan berceloteh tentang penyesalannya yang teramat dalam. Satu kali lagi getaran hatiku mulai aktif bagaikan BOM, “Jaga diri untuk KAMI ya”.  Air ludah yang terteguk membuat geteran yang sangat kencang dalam hati.Hari itu adalah tembakan cahaya sejati bagi hidupku, hingga aku bangkit dalam kegelapan nan suram itu untuk datang menghampiri sang pembagi gemerlap dunia. Mulai dengan awal yang kecil,mengikuti lomba hingga aku mendapatkan emas.

Sungguh hal ini tak akan pernah aku lupakan dalam hidupku,kan selalu tergores,terukir,dan terniang di dalam raga ini. Cahaya nan kembali tak akan pernah lepas lagi di dalam kehidupanku.Hancur dalam kegelapan dengan melodi nan indah sangat pedih terasa,belumlah sampai pada penghujung air garam pun tumpah di atas kulit tak berlapis. Dunia bagaikan hancur penuh dengan gejolak rasa marah yang terpendam di dalam hati,ingin sekali rasanya menusukkan ratusan duri keseluruh bagian badan nan terkikis. Setitik demi setik berlian mulai berjatuhan dilapangan luas nan tak bernoda. Itu adalah ukiran senandung sakit di dalam hidupku. Matahari yang tak pernah tau betapa panas nya bumi, dan bulan yang datang membalut kegelapan sangat sulit untuk di mengerti.

 Semua berawal dari kisah seorang anak tak tau malu  bernyali bagaikan upil. Itu adalah aku Jorbair, seorang siswa dari Megaroka. Aku telah salah memilih jalanku untuk pergi mengambil scholarship ini,memang semua hal sangat mudah di raih di sini. Entah  duri apa yang menusuk dihati,nan membuat nya tak pernah merasa senang akan ini. Banyak cahaya yang dapat kugapai yang belum bisa orang lain capai,banyak jumlah liku yang sudah ku hitung, dan banyak auman harimau kotor yang sudah ku dapatkan. Tapi bahagia itu musnah, bagaikan air kotor yang mengalir. Bagaikan manusia terbodoh didalam kurungan emas, penuh tekanan dan aturan,itu bukanlah hidupku. Aku ingin menjadi aku, ingin menjadi burung Rajawali yang bebas di alam nya. Hingga sampai saat ini aku bingung akan masa depan ku, ketakutan itu datang tetapi aku tak bisa berkutik dari semua ini. Hingga semua pergi menjauh dari cahaya nan berkilau saat ini, datang sebuah penyesalan nan amat dalam di kegelapan.

 Bagiku kata”bersyukur” sudah terlambat, game is over. Saat nya anda keluar dari permainan, menyedihkan dan sangat memalukan. Kini urat-urat ini berusaha untuk mencapai pada titik  klimaks nya. Percobaan pertama GAGAL,kedua GAGAL DAN MEMALUKAN, dan yang terakhir HANCUR dalam kesendirian. Aku sangat kehilangan atas segalanya, rasanya aku ingin lombat dan melayang terbang membawaku kea lam lain. Tidak pernah terfikir bahwa ini benar-benar terjadi pada hidupku,sampai saat ini aku masih seorang pecundang yang tak tau arah untuk menuntun hati. Hingga aku terhanyut dalam kebisingan laut api hingga berbulan-bulan. Hingga akhirnya tembakan motivasipun datang menghampiri ku, saat itu keadaan keluargaku sangat kacau. Ibu dan kakak tertua ku saling mengadu bilahnya masing. Hingga aku bingung untuk melakukan apa, ibuku mengadu dengan tangisan sembriwut yang kencang,yang pada akhirnya dia berkata ”Banggakanlah Wanit Tua ini nak”. Terdiam,gemetar dan menangis hanya itu yang hanya dapat aku lakukan pada saat itu. Tak lama setelah itu auman bekecotpun menghampiri telinga ini, Kakak ku hanya menangis dan berceloteh tentang penyesalannya yang teramat dalam. Satu kali lagi getaran hatiku mulai aktif bagaikan BOM, “Jaga diri untuk KAMI ya”.  Air ludah yang terteguk membuat geteran yang sangat kencang dalam hati.Hari itu adalah tembakan cahaya sejati bagi hidupku, hingga aku bangkit dalam kegelapan nan suram itu untuk datang menghampiri sang pembagi gemerlap dunia. Mulai dengan awal yang kecil,mengikuti lomba hingga aku mendapatkan emas.

Sungguh hal ini tak akan pernah aku lupakan dalam hidupku,kan selalu tergores,terukir,dan terniang di dalam raga ini. Cahaya nan kembali tak akan pernah lepas lagi di dalam kehidupanku.

Iklan

Posted on September 27, 2013, in Cerpen Bahasa Indonesia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • %d blogger menyukai ini: