Geliakan Sang Pahlawan Tak Terbalas(Oleh Fajri Raizal K)

     fajriraizalk

Dengan kaki yang kuat menapak pada bumi dan hati ramah penuh kejujuran kasih, aku bersiap untuk berangkat menuju  istanaku. Pintu gerbang sekolah menjadi awal petualangan ku. Aku adalah pemberi cahaya yang di setiap kerlipnya terdapat kebajikan dan keindahan yang penuh makna, menyinari setiap calon generasi penerus bangsa di sebuah ruangan penjaga ilmu. Akulah seorang guru, yang tak pernah  lelah untuk mengajar para calon generasi penerus bangsa.

Di samping kelas, celotehan, dan teriakan-teriakan ganjil yang parau dari semua murid mulai menggema di telingaku. Tetapi, saat aku telah menginjakan kakiku di kelas, damai sekali melihat ank-anak itu bersiap dengan posisi serapih-rapihnya, tangan yang bersedekap di atas meja, dan tatapan senyum ke arahku. “Selamat pagi anak-anak..”, kata itu seperti uang yang tersimpan rapat di dalam berangkas otak ku yang akan selalu tulus aku ucapkan untuk menyambut anak didik ku di kelas. “Pagi, Pak..”, kata itu pula yang akan murid didik ku lontarkan kepadaku. Canggung, perasaan itulah yang muncul merasuki tubuhku ketika aku baru pertama kalinya mengajar calon generasi penerus bangsa itu. Tapi mungkin tidak, canda tawa mereka membuat suasana yang awalnya sunyi kelam kelabu menjadi sinar yang terang dengan pelangi yang indah, membuatku semakin bersemangat untuk memberi sekantung ilmu ku. Dengan suara yang lantang, aku mulai memberi kan ilmu yang bermanfaat itu kepada mereka. Biologi, kimia, dan matematika adalah beberapa contoh mata pelajaran yang akan aku ajarkan kepada mereka. Mata yang berkedip kerling menatap ku seolah semua ilmu yang aku ajarkan diserap dengan baik oleh mereka. Tapi terkadang, calon generasi penerus bangsa itu juga sering membuatku marah, kesal, dan jengkel.Disana-sini mulai berserakan peralatan tulis yang seolah diam tanpa kata, dan bangku-bangku khusus berderak-derak bergesekan dengan kursi permainan murid.  Setiap kesempatan, mereka sering memalingkan mata, dan pikiran mereka perlahan keluar dari jalur pengetahuan yang aku berikan. Tetapi, dengan kesabaran, dan ketulusan yang amat dalam dari ku untuk mengajar mereka, aku berusaha untuk menjinakan api yang membakar tubuhku itu menjadi salju yang menyejukkan.

 

      Aku terus meneruskan pelajaran. Tugas adalah kegiatan yang akan ku berikan kepada mereka atas apa yang telahmereka dapatkan dari penjelasan ku sebelumnya.Suara detak jam dinding mengiringi anak-anak itu dalam mengerjakan tugas di tengah kesunyian kelas. Jari-jemari lemah mereka yang memegang erat pensil seolah menari gemulai di atas secerca kertas putih yang masih bersih. Raut wajah tenang, berambisi untuk memecahkan masalah pada tugas tersebut pun mulai tampak, goresan tinta pena pun mulai memenuhi kertas putih tersebut. Tetapi, ketika waktu untuk mengerjakan tugas itu hampir selesai, mereka mulai gelisah, dan mencoba untuk menjalankan pikirannya lebih keras lagi untuk menyelesaikannya. “Waktu untuk mengerjakan tugas sudah selesai, nak,” ujarku. Aku pun mulai menjalankan kakiku dengan ketukan yang lemah untuk mengambil satu per satu kertas yang telah tergeletak rapih di atas meja mereka masing-masing.

      Tidak lama kemudian, suara lonceng tanda selesai belajar memecah keheningan di kelas. “Sebelum kita pulang, mari kita membaca doa bersama-sama,” ujarku memimpin doa. Murid-murid pun bersiap di bangkunya masing-maing. Damai,memang damai  sekali saat  mata mereka  menatap ke tangan yang menengadah ke atas. Hampir satu hari penuh aku bersama calon generasi penerus bangsa itu. Kini, mereka mulai bergerak ke arah ku. Aku terharu. Setibanya di depanku,mereka semua terdiam,mengisyaratkan untuk mencium tangan ku yang lurus di samping kaki-kakiku. Ya, mereka mencium tanganku, sambil berkata, “Selamat siang Pak Guru..” sebuah perkataan yang tulus yang membuatku terharu. Murid yang terakhir telah mencium tanganku. Kini, tatapanku bergerak kesamping, ke arah masing-masing tas punggung murid-murid yang berjalan ke pintu keluar. Dalam diamsaya berucap, “Selamat jalan anak-anak ku, selamat jalan calon generasi penerus bangsa,”. Saya membiarkan airmata yang menetes di sela-sela kelopak yang perlahan membasahi pipiku. Sayabiarkan bulir itu jatuh, untuk melukiskan perasaan haru, dan banggaku terhadap mereka untuk menuntut illmu bersamaku. Tugasku di istana ku pun selesai. Berbagai macam hal seperti mengecek tugas para siswa pun telah menugguku.

      Banyak orang berpikir bahwa guru dapat menghasilkan uang yang lebih banyak dari seorang arsitek per bulannya. Itu tidak mungkin. Aku hanya mendapatkan sepeser uang yang  cukup untuk membelikan makanan untuk keluargaku. Aku tidak dapat memenuhi kebutuhan lain bagi keluargaku. Oleh karena itu, selain menjadi seorang guru, aku juga adalah seorang supir angkutan umum, yang setiap hari  nya harus berjuang di jalan raya yang ramai dengan kendaraan, dan polusi. Setidaknya, itu dapat membantu keuangan keluargaku.

      Ketahuilah kawan, menjadi guru bukanlah hal yang mudah seperti seseorang melangkahkan kakinya kedepan. Menjadi guru juga bukan pekerjaanyang penuh dengan kegemerlapan.Takada kerlap-kerlip lampu sorot dengan warna pelangi yang memancar. Sebabmereka memang bukan seperti bintang panggung.Namun, ada sesuatu yang mulia disana. Pada guru lah ada kerlap-kerlip cahayamega putih bagaikan penolong, dan kebajikan dalam setiap nilai yang mereka ajarkan. Merekalah sumber cahaya-cahaya itu, yang menyinari setiap hati calon generasi penerus bangsa mereka. Dari gurulah kita belajar mengeja kata dari a sampai z. Pada gurulah kita belajarlamat-lamat bahasa dunia. Lewat guru, kita belajar budi pekerti, belajarmengasah hati, dan menyelami nurani. Lewat guru pula kita mengerti tentang banyak hal-hal yang tak kita pahami sebelumnya.

     Ketika seorang pelukis tahu bahwa dia hanya akan membuat sebuah maha karya yang tak abadi, tetapi tidak untuk seorang guru. Dia akan memberikan sebuah karya berupa ilmu yang akan kekal dan abadi.

     Ya, akulah seorang guru, setiap hari mencoba bertempur melawan prasangka baik maupun buruk, rasa takut, dan cara berpikir yang beragam. Sikap-sikap negatif akan selalu ku dapatkan, bagaikan serangan roket yang tajam terlucut ke arahku. Tapi aku mempunyai sekutu-sekutu hebat. Kecerdasan, rasa kasih sayang, kreatifitas, cinta,  dan tawa, semua bergegas menghampiriku dengan dukungan seluas tata surya, setinggi gunung everest di Himalaya.

Iklan

Posted on September 23, 2013, in Cerpen Bahasa Indonesia. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • %d blogger menyukai ini: