Gertakan Sang Kuasa(Oleh Fajri Raizal K)

Fajri Raizal K

Suara keras yang melentum di telingaku sangat keras,jerit dan tangis mulai terdendang di telingaku,darah yang menghujani hamper seluruh tubuhku membuat aku terpuruk akan ketakutan. Mayat-mayat saudaraku tak berdaya hanya tergeletak tepat di atas dan di samping tubuh nan kurus ini,membuat hati ku rapuh yang berujung menggigit jiwaku. Hingga bendungan air mata tak dappat lagi tertampung hingga jatuh metetes di tanah airku yang tersselimut darah ini. Anitselap tanah airku tercinta rata akan mayat dan runtuhan bangunan itu. Raga yang terselip di antar mayat-mayat yang melindungiku hanya dapat terpaku dan terdiam melihatnya. Cepat terasa serangan dari geromboolan manusia bedebah itu,Learsi adalah negera yang penuh dengan gerombolan yang tak memilki hati. Anitselap negera yang hancur dan tak berbentuk hanya tinggal nama.

Aku adalah Annisa Amal Rahimna anak yang berusia 14 tahun hanya seorang gadis hidup dengan sekelompok manusia yang sederhana dan bahagia ,itulah keluarga ku. Ayah dan Ibuku adalah seorang pegawai yang bekerja di salah satu peruusahaan yang tidakcukup besar,dengan gaji yang hanya pas-pasan mereka berusaha mencukupi kebutuhan kami. Aku memiliki seorang kakak lelaki yang baru saja bangga akan kelulusan nya di fakultas Teknik Kimia. Dan adikku yang berumur 3 tahun baru saja lepas ASI ibuku. Kami adalah sekolompok moslim yang sangat menjujung apa yang di haruskan oleh Tuhan kami. Hidup yang terasa bahagia itu sangat indah jika aku ingat kembali. Tangis,tawa,riang,dan ceria yang ada sangat mengkikis hati saat ini.

Bagaikan api dan gempa yang menghantam membuat semua itu hancur. Learsi Negara biadab menyerang kota ku tercinta. Pagi itu aku dan keluargaku sedang melaksankkan solat subuh bersama sperti biasanya ,Abi yang menjadi imam yang selalu mendendangkan alunan-alunan ayat alquran yang indah. Saat itu aku tak sempat terfikir jika itu akan menjadi sujud terakhir bagi keluargaku. Dan ledekan kencang itupun mulai terdengar di kuping ku ini dan langsung membuat bangunan rumahku runtuh yang pada akhirnya menyelimuti tubuh yang sudah tak berdaya ini. Sekita aku tak bias melihat apapun, dipikirankan ku saat itu ak sudah berada jauh dari bayangan matahari. Entah apa yang melindungiku mulai terdengar sayup-sayup suara yang tak jelas yang terdentum di telingaku. Perlahan kelopak mata ini mencoba untuk melihat cahaya itu kembali. Tubuh tak berdaya hanya melihat bangkai mayat yang hancur berada di sekitar tubuhku. Abi,Umi,Kakak,Dan adikku kini tellah tiada,pergi untuk meninggalkanku selamanya. Cerita hati mengkkikis jiwaku hingga mencekik keselah-selah rongga leherku. Terbisu dengan air mata mengalir di pipi adalah hal yang sangat menyakitkan,tak terbata satu katapun untuk menyatakan selamat tinggal untuk mereka. Tubuhku merasakan getaran dan membuat pandanganku menjjadi gelap.

Iklan

Posted on Agustus 13, 2013, in Cerpen Bahasa Indonesia. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • %d blogger menyukai ini: